
Selamat Menempuh Perkuliahan Semester Ganjil 2026/2027, PGMI UNUGIRI Siapkan Generasi Pendidik yang Unggul dan Berkarakter
September 7, 2026
Takut Bertanya kepada Dosen? Begini Cara Memulai Diskusi Akademik
September 12, 2026
Bojonegoro, 12 September 2026 — Bagi mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), menjadi guru tidak cukup hanya dengan memahami materi pelajaran. Seorang calon guru juga perlu mampu menyampaikan materi, mengelola kelas, berkomunikasi dengan siswa, serta menciptakan suasana pembelajaran yang menarik.
Salah satu proses yang menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kemampuan tersebut adalah microteaching atau pembelajaran mikro.
Apa Itu Microteaching?
Microteaching merupakan kegiatan praktik mengajar dalam skala terbatas yang dirancang untuk melatih keterampilan dasar mengajar mahasiswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa berperan sebagai guru dan teman sekelas dapat berperan sebagai peserta didik.
Disebut micro karena praktik pembelajaran dibuat lebih sederhana dibandingkan pembelajaran di kelas sebenarnya, baik dari segi jumlah peserta, waktu, maupun cakupan materi.
Meski dilakukan dalam suasana latihan, mahasiswa tetap dituntut untuk mempersiapkan pembelajaran dengan serius. Mulai dari menentukan tujuan pembelajaran, menyiapkan materi, memilih metode, menggunakan media, hingga melakukan evaluasi.
Bukan Sekadar Berdiri dan Menjelaskan Materi
Bagi sebagian mahasiswa, microteaching mungkin terlihat seperti kegiatan “maju ke depan kelas lalu menjelaskan materi”. Padahal, prosesnya jauh lebih kompleks.
Mahasiswa belajar bagaimana membuka pembelajaran dengan baik, menarik perhatian peserta didik, menyampaikan materi secara jelas, memberikan pertanyaan, memberikan penguatan, mengelola interaksi, hingga menutup pembelajaran.
Keterampilan-keterampilan tersebut menjadi latihan awal sebelum mahasiswa menghadapi situasi pembelajaran yang sebenarnya.
Dari Grogi Menjadi Lebih Percaya Diri
Salah satu tantangan yang sering dirasakan mahasiswa ketika melakukan microteaching adalah rasa gugup.
Berbicara di depan teman sendiri terkadang justru membuat mahasiswa merasa lebih tegang. Ada yang lupa materi, kurang percaya diri, berbicara terlalu cepat, atau bingung ketika mendapatkan pertanyaan.
Namun, justru melalui proses inilah mahasiswa belajar.
Kesalahan saat praktik bukan berarti kegagalan. Microteaching menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki sebelum nantinya benar-benar mengajar di madrasah atau sekolah.
Belajar dari Evaluasi dan Masukan
Setelah praktik mengajar, mahasiswa biasanya mendapatkan evaluasi dari dosen maupun teman. Evaluasi tersebut dapat berkaitan dengan cara menyampaikan materi, penggunaan media, pengelolaan kelas, bahasa yang digunakan, hingga kemampuan membangun komunikasi dengan peserta didik.
Masukan tersebut menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa.
“Apa yang sudah baik? Apa yang masih kurang? Bagaimana cara memperbaikinya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan mengajar secara bertahap.
Bekal Sebelum Terjun ke Kelas yang Sebenarnya
Microteaching menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan mahasiswa PGMI untuk mempersiapkan diri sebagai calon guru MI.
Melalui praktik ini, mahasiswa tidak hanya belajar apa yang harus diajarkan, tetapi juga belajar bagaimana cara mengajarkannya.
Karena menjadi guru bukan hanya tentang menguasai materi, tetapi juga tentang bagaimana membuat peserta didik memahami, terlibat, dan menikmati proses belajar.
Dari ruang praktik yang sederhana, mahasiswa PGMI belajar membangun keberanian, keterampilan, kreativitas, dan profesionalisme sebagai calon pendidik.
Grogi saat pertama kali microteaching? Wajar. Karena setiap guru hebat juga pernah belajar berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya.
#SMARTPGMI — Santun, Mudah Beradaptasi, Aktif, Religius, Terampil.
Tags
PGMI UNUGIRI, Mahasiswa PGMI, Microteaching, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Calon Guru, Praktik Mengajar, Pendidikan, PGMI Bojonegoro, UNUGIRI, #SMARTPGMI




