
Dosen PGMI UNUGIRI Kembali Raih Pendanaan Hibah Kemdiktisaintek 2026, Tegaskan Keunggulan Akademik Prodi
April 9, 2026
PGMI UNUGIRI Aktif dalam Rapat Monev Tengah Semester Genap 2025/2026: Perkuat Mutu dan Inovasi Pembelajaran
April 20, 2026Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Guru tidak lagi cukup menguasai materi pelajaran dan metode mengajar konvensional, tetapi juga dituntut mampu memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pada mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, penggunaan media digital menjadi kebutuhan karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik saat ini.
Sayangnya, transformasi digital di sekolah belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan kompetensi guru. Masih banyak guru yang mengenal berbagai aplikasi pembelajaran, tetapi belum memiliki kepercayaan diri maupun keterampilan untuk mengintegrasikannya ke dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, pembelajaran masih didominasi metode konvensional yang kurang memberikan ruang bagi kreativitas dan partisipasi aktif siswa.
Kondisi tersebut juga ditemukan pada sejumlah guru Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bojonegoro. Hasil identifikasi kebutuhan yang dilakukan tim pengabdian menunjukkan bahwa sebagian besar guru telah menggunakan teknologi untuk keperluan komunikasi dan administrasi, namun belum optimal memanfaatkannya sebagai media pembelajaran. Penggunaan aplikasi seperti Canva, Wordwall, Quizizz, Padlet, Khan Academy Kids, maupun Literacy Cloud masih sangat terbatas sehingga variasi pembelajaran Bahasa Inggris belum berkembang secara maksimal.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan kompetensi literasi digital guru melalui pelatihan dan pendampingan pemanfaatan aplikasi pembelajaran interaktif. Program ini tidak hanya memberikan pengenalan teknologi, tetapi juga mengarahkan guru agar mampu menghasilkan perangkat ajar digital yang dapat langsung diterapkan di kelas.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara partisipatif melalui tahapan analisis kebutuhan, Focus Group Discussion (FGD), penyusunan modul, workshop, pendampingan, monitoring, hingga evaluasi. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar berdasarkan kebutuhan nyata yang mereka hadapi di sekolah. Guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam merancang media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Selama pelatihan, guru memperoleh pengalaman langsung menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran. Canva dimanfaatkan untuk mendesain media visual dan kartu kosakata, Wordwall serta Quizizz digunakan untuk menyusun evaluasi berbasis permainan, Padlet menjadi ruang kolaborasi digital antara guru dan siswa, sedangkan Khan Academy Kids serta Literacy Cloud dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mendukung pengembangan kemampuan membaca dan literasi Bahasa Inggris pada anak usia sekolah dasar. Kombinasi berbagai aplikasi tersebut memberikan alternatif strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan dibandingkan pendekatan konvensional.
Dampak program mulai terlihat melalui meningkatnya kemampuan guru dalam mengoperasikan aplikasi digital serta menyusun perangkat pembelajaran berbasis teknologi. Guru berhasil menghasilkan berbagai media pembelajaran, mulai dari kartu kosakata digital, kuis interaktif, papan kolaborasi, hingga rancangan aktivitas membaca digital yang siap digunakan dalam proses pembelajaran. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ketika guru memperoleh pendampingan yang tepat, teknologi tidak lagi dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Lebih dari sekadar peningkatan keterampilan teknis, kegiatan ini juga mendorong tumbuhnya budaya kolaborasi antarguru. Selama proses pendampingan, peserta saling berbagi pengalaman, bertukar ide, serta mendiskusikan praktik-praktik pembelajaran yang efektif. Komunitas belajar yang terbentuk menjadi modal penting bagi keberlanjutan inovasi pembelajaran di lingkungan madrasah.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa transformasi digital di sekolah tidak cukup dilakukan melalui penyediaan perangkat teknologi semata. Peningkatan kompetensi guru harus menjadi prioritas utama. Guru yang memiliki literasi digital yang baik akan lebih mudah memilih media pembelajaran sesuai tujuan pembelajaran, mengembangkan kreativitas peserta didik, serta menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
Ke depan, program serupa perlu diperluas melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi profesi, dan lembaga pendidikan. Pendampingan yang berkelanjutan akan membantu guru terus mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memastikan bahwa inovasi pembelajaran benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan dasar.
Transformasi pendidikan pada akhirnya selalu bermula dari peningkatan kapasitas guru. Ketika guru mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan kreatif, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, adaptif, dan relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Keterangan Program
Artikel ini merupakan salah satu luaran Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro pada Tahun Pendanaan 2025 No. Kontrak 1052/SKt/LPPM/071088/XII/2025 dalam Bidang Unggulan Transformasi Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran melalui Skema Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Internal UNUGIRI. Program dilaksanakan bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Kabupaten Bojonegoro dan Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Ngasem.
Penulis:
Suttrisno
Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro





