
Ketua HMP dan Mahasiswa PGMI UNUGIRI Ikuti Musyawarah Wilayah IX IMPI Wijayatirta di UIN Malang
Mei 25, 2026Ketika Qurban Kehilangan Makna: Krisis Empati di Tengah Kemeriahan Idul Adha Modern
Setiap tahun umat Islam merayakan Hari Raya Iduladha dengan penuh semangat keagamaan. Masjid dipenuhi jamaah, hewan qurban berjajar di berbagai sudut kota, dan media sosial dipadati dokumentasi penyembelihan hingga distribusi daging qurban. Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan penting yang jarang dibahas secara mendalam: apakah qurban hari ini masih benar-benar menghadirkan spirit pengorbanan dan kepedulian sosial, atau justru mulai bergeser menjadi rutinitas simbolik yang kehilangan makna substantifnya?
Fenomena masyarakat modern menunjukkan adanya paradoks menarik. Di satu sisi, aktivitas ritual keagamaan semakin masif dan meriah. Di sisi lain, krisis empati sosial justru semakin nyata. Konflik sosial, individualisme, budaya pamer, ketimpangan ekonomi, hingga rendahnya sensitivitas terhadap penderitaan orang lain masih menjadi persoalan besar di tengah masyarakat. Dalam konteks inilah Hari Raya Qurban perlu dikaji ulang secara lebih kritis dan akademik, bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai refleksi moral dan sosial bagi kehidupan manusia modern.
Secara teologis, qurban memiliki akar sejarah yang sangat kuat melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut bukan sekadar narasi kepatuhan kepada Tuhan, melainkan simbol pendidikan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan keberanian menempatkan nilai spiritual di atas kepentingan material. Al-Qur’an menegaskan bahwa esensi qurban bukan terletak pada darah dan daging hewan, melainkan ketakwaan manusia (QS. Al-Hajj: 37). Perspektif ini menunjukkan bahwa qurban sesungguhnya merupakan pendidikan moral yang bertujuan membentuk manusia yang lebih peduli, rendah hati, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Namun dalam realitas masyarakat kontemporer, praktik qurban sering kali mengalami pergeseran makna. Budaya konsumtif dan kapitalistik membuat sebagian masyarakat memandang qurban sebagai simbol status sosial dan prestise keagamaan. Tidak sedikit fenomena yang menunjukkan bagaimana ibadah qurban dipertontonkan secara berlebihan melalui media sosial, sementara nilai kesederhanaan dan kepedulian sosial justru semakin memudar. Menurut penelitian Sulaiman (2021), modernisasi dan budaya digital telah mendorong munculnya “religious performance culture”, yaitu kecenderungan menjadikan aktivitas keagamaan sebagai bagian dari pencitraan sosial di ruang digital.
Dalam perspektif sosiologi agama, kondisi tersebut menunjukkan adanya transformasi ritual keagamaan dari fungsi spiritual menuju fungsi simbolik sosial. Emile Durkheim menjelaskan bahwa ritual agama seharusnya memperkuat solidaritas kolektif dan integrasi sosial masyarakat. Akan tetapi, ketika ritual kehilangan dimensi moralnya, agama berpotensi hanya menjadi aktivitas formal tanpa daya transformasi sosial yang nyata. Penelitian Prasetyo dan Rahman (2023) menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas keagamaan di masyarakat urban tidak selalu diikuti peningkatan kepedulian sosial dan empati kemanusiaan.
Hari Raya Qurban juga relevan dikaji dari perspektif pendidikan karakter. Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan serius berupa menurunnya sensitivitas sosial generasi muda akibat dominasi budaya digital dan individualisme modern. Peserta didik semakin akrab dengan teknologi, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan empati dan kepedulian sosial yang kuat. Dalam kondisi seperti ini, qurban dapat menjadi media pendidikan karakter yang sangat kontekstual. Nilai berbagi, pengorbanan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial yang terkandung dalam qurban perlu diintegrasikan dalam proses pendidikan sejak usia dini.
Penelitian Hidayat dan Maulana (2022) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman sosial-keagamaan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan empati peserta didik sekolah dasar. Anak-anak yang dilibatkan dalam aktivitas sosial keagamaan cenderung memiliki tingkat kepedulian sosial dan kemampuan kerja sama yang lebih baik dibandingkan pembelajaran yang hanya berorientasi kognitif. Hal ini menunjukkan bahwa qurban bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga instrumen pendidikan sosial yang sangat penting bagi pembangunan karakter generasi masa depan.
Dari perspektif ekonomi Islam, qurban sebenarnya memiliki potensi besar dalam membangun keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Distribusi daging qurban dapat membantu kelompok masyarakat miskin memperoleh akses pangan yang layak, sekaligus memperkuat ekonomi peternak lokal. Akan tetapi, potensi besar tersebut sering kali belum dikelola secara optimal dan berkelanjutan. Momentum qurban masih bersifat musiman dan belum sepenuhnya diarahkan menjadi gerakan pemberdayaan sosial ekonomi yang sistematis.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan saat ini, manusia modern menghadapi ancaman serius berupa menurunnya kualitas relasi sosial. Teknologi memudahkan komunikasi, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional dan kepedulian kemanusiaan. Ironisnya, manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin jauh secara sosial. Dalam situasi inilah spirit qurban menjadi sangat relevan sebagai kritik moral terhadap budaya individualisme dan materialisme modern.
Hari Raya Qurban seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa kehidupan manusia tidak hanya diukur dari pencapaian material dan simbol sosial, tetapi juga dari kemampuan untuk berbagi, peduli, dan berkorban demi orang lain. Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan menyembelih egoisme, keserakahan, dan sikap individualistik yang semakin mengakar dalam kehidupan modern.
Jika nilai-nilai qurban mampu dihidupkan kembali secara substantif, maka Iduladha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga gerakan sosial dan pendidikan moral yang mampu membangun masyarakat yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkeadaban.
Ditulis oleh:
Suttrisno
Referensi
- Hidayat, A., & Maulana, R. (2022). Pendidikan karakter berbasis pengalaman sosial keagamaan pada siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 12(2), 144-158.
- Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
- Prasetyo, D., & Rahman, M. (2023). Ritual agama dan transformasi solidaritas sosial masyarakat urban. Jurnal Sosiologi Agama, 17(1), 77-92.
- Sulaiman, R. (2021). Religious performance culture dalam masyarakat digital muslim Indonesia. Jurnal Komunikasi Islam, 11(2), 201-219.
- Yusuf, M. (2020). Spiritualitas qurban dan kritik terhadap materialisme modern. Jurnal Studi Islam Kontemporer, 9(1), 33-48.
📍 Smart PGMI UNUGIRI
Smart, Berkarakter, Inovatif, Berbasis Saintek, Aswaja An-Nahdliyah
“Siap Mengabdi untuk Negeri”

🌐 Website : pgmi.unugiri.ac.id
📸 Instagram : @pgmi.unugiribojonegoro
🎵 TikTok : @smartpgmi_unugiri
▶ YouTube : Media PGMI
#JUBISMA
#SmartPGMI
#IdulAdha2026
#HariRayaQurban
#PendidikanKarakter
#PGMIUNUGIRI
#IslamicEducation
#HumanityEducation
#SocialEmpathy
#DigitalSociety
#PendidikanIslam
#AkreditasiUnggul
#SiapMengabdiUntukNegeri
#ArtificialIntelligence
#FutureEducation
#EducationForHumanity
#WorldClassEducation
#GlobalEducation
#IslamicStudies
#CharacterBuilding



