
Dosen PGMI UNUGIRI Kembali Torehkan Prestasi Internasional, Menjadi Reviewer Jurnal Scopus Q1 dan Q2
Agustus 5, 2026
PGMI UNUGIRI Ikut Berkontribusi dalam Evaluasi Pembelajaran dan Pengukuran CPL untuk Penguatan Mutu Lulusan
Agustus 6, 2026Bojonegoro – Evaluasi kinerja di perguruan tinggi perlu ditempatkan sebagai instrumen pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar forum pelaporan keberhasilan. Pandangan tersebut mengemuka dalam refleksi evaluasi kinerja yang disampaikan oleh Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro dalam rangka Evaluasi Ketercapaian KPI dan Keterserapan Anggaran Tahun 2026.
Dalam forum evaluasi, PGMI menyoroti pentingnya mengubah paradigma evaluasi dari yang semata berorientasi pada ketercapaian angka menuju evaluasi yang mampu mengidentifikasi akar persoalan dan menghasilkan rekomendasi perbaikan yang nyata. Menurut Kaprodi PGMI UNUGIRI, Suttrisno, M.Pd., evaluasi yang sehat tidak hanya berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga keberanian mengungkap area yang masih memerlukan penguatan.
“Evaluasi bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling banyak mencapai target, tetapi ruang refleksi bersama untuk menemukan apa yang perlu diperbaiki agar institusi dapat berkembang lebih baik,” ungkapnya.
PGMI mengangkat pendekatan Sandwich Feedback yang diperkenalkan oleh Mary Kay Ash pada era 1980-an sebagai salah satu model evaluasi yang relevan diterapkan dalam pengelolaan organisasi pendidikan. Pendekatan ini menempatkan apresiasi sebagai pembuka, masukan konstruktif sebagai fokus utama, dan penguatan serta harapan sebagai penutup.
Dalam perspektif tersebut, evaluasi ideal tidak didominasi oleh laporan keberhasilan, melainkan memberikan porsi yang lebih besar pada pembahasan area yang masih perlu diperbaiki. Melalui pendekatan ini, evaluasi tidak berhenti pada pertanyaan “berapa yang sudah tercapai?”, tetapi juga menjawab “mengapa belum tercapai?” dan “apa yang harus diperbaiki?”.
PGMI menilai bahwa salah satu tantangan yang sering muncul dalam proses evaluasi adalah kecenderungan fokus pada output, seperti jumlah kegiatan dan serapan anggaran, sementara aspek dampak, keberlanjutan program, serta hambatan sistemik belum memperoleh perhatian yang proporsional. Akibatnya, evaluasi sering kali menghasilkan laporan capaian, tetapi belum sepenuhnya menjadi dasar transformasi kelembagaan.
Beberapa isu yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain sinkronisasi antara indikator kinerja dan penganggaran, keterlambatan proses birokrasi yang memengaruhi pelaksanaan program, serta perlunya ruang pembelajaran institusional yang memungkinkan setiap unit saling berbagi praktik baik dan solusi atas permasalahan yang dihadapi.
PGMI juga menegaskan bahwa kritik dalam evaluasi tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk penilaian negatif, melainkan sebagai kontribusi untuk membangun budaya mutu yang lebih kuat. Institusi yang maju bukanlah institusi yang tidak memiliki masalah, melainkan institusi yang mampu mengidentifikasi masalah secara jujur dan memperbaikinya secara sistematis.
Sejalan dengan visi UNUGIRI menuju perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing global, evaluasi kinerja diharapkan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan efektivitas program, dan mempercepat pencapaian target institusi. Melalui evaluasi yang kritis, reflektif, dan berorientasi pada solusi, setiap unit kerja dapat berkontribusi lebih besar dalam mewujudkan transformasi perguruan tinggi menuju standar yang semakin berkualitas.
“Evaluasi sejati bukan tentang siapa yang paling banyak mencapai, tetapi tentang siapa yang paling berani memperbaiki.” – Refleksi Evaluasi Kinerja PGMI UNUGIRI.





