
HARDIKNAS 2026
Mei 2, 2026
PGMI UNUGIRI Ucapkan Selamat atas Diraihnya Akreditasi “Unggul” Program Studi PIAUD
Mei 9, 2026Transformasi Pembelajaran Berbasis Deep Learning di Sekolah Dasar: Dari Hafalan Menuju Pemahaman Bermakna

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah saat ini menghadapi tantangan baru dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya mampu menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan memiliki karakter yang kuat. Dunia pendidikan tidak lagi cukup hanya menekankan kemampuan menghafal materi dan mengejar nilai akademik semata. Pendidikan modern menuntut proses pembelajaran yang lebih mendalam, kontekstual, dan mampu membangun kemampuan berpikir peserta didik secara menyeluruh. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperbincangkan dalam transformasi pendidikan abad ke-21 adalah deep learning.
Dalam konteks pendidikan, deep learning bukan hanya dimaknai sebagai teknologi kecerdasan buatan, tetapi juga pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, kemampuan berpikir tingkat tinggi, refleksi, pemecahan masalah, serta keterkaitan ilmu dengan kehidupan nyata peserta didik. OECD (2025) menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus mulai meninggalkan pembelajaran berbasis hafalan menuju pembelajaran yang mampu membangun deep understanding agar peserta didik siap menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang. Pendidikan tidak cukup hanya membuat siswa mengetahui jawaban, tetapi harus mampu membuat siswa memahami alasan di balik pengetahuan tersebut serta mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Realitas pembelajaran di sekolah dasar saat ini masih menunjukkan bahwa sebagian besar proses pembelajaran belum sepenuhnya mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan aktif mengeksplorasi pengetahuan. Pembelajaran masih banyak berpusat pada guru dengan metode ceramah dan evaluasi berbasis hafalan. Akibatnya, siswa sering kali mampu menjawab soal ujian tetapi mengalami kesulitan ketika diminta mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan karena generasi masa depan membutuhkan kemampuan berpikir analitis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah yang kuat.
Dalam pendidikan dasar, pendekatan deep learning menjadi sangat penting karena usia sekolah dasar merupakan fase awal pembentukan pola pikir, karakter, dan budaya belajar peserta didik. Anak-anak perlu dibiasakan untuk aktif bertanya, mengamati fenomena di sekitar, berdiskusi, mengembangkan ide, dan membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman belajar yang nyata. Pembelajaran yang mendalam akan membantu siswa memahami makna belajar, bukan sekadar menghafal materi untuk menghadapi ujian.
Penelitian yang dilakukan oleh Suttrisno, Nurul Mahruzah Yulia, dan Baffa Bashari Ibrahim pada tahun 2025 mengenai pengembangan interactive worksheet berbasis Artificial Intelligence dan local wisdom Bojonegoro menunjukkan bahwa integrasi teknologi dengan konteks budaya lokal mampu meningkatkan kemampuan literasi siswa madrasah ibtidaiyah secara signifikan. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, budaya lokal, dan media pembelajaran interaktif yang menarik. Hasil penelitian bahkan menunjukkan peningkatan kemampuan literasi siswa dalam kategori tinggi melalui penggunaan LKPD berbasis AI yang kontekstual (Suttrisno et al., 2025). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam dapat dibangun melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Selain itu, penelitian Suttrisno, Nurul Mahruzah Yulia, dan Dwi Nur Fithriyah (2022) mengenai pengembangan kompetensi guru dalam evaluasi pembelajaran era Merdeka Belajar menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa kesiapan guru dalam merancang pembelajaran inovatif dan reflektif. Guru tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi harus menjadi fasilitator yang mampu membangun pengalaman belajar aktif dan bermakna bagi peserta didik. Penelitian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran modern sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran dialogis, kolaboratif, dan kontekstual sesuai kebutuhan siswa.
Penelitian lain dari Nurul Mahruzah Yulia dan Suttrisno (2024) mengenai pelestarian budaya lokal melalui pembiasaan bahasa Jawa krama di madrasah ibtidaiyah juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang kontekstual mampu memperkuat karakter dan identitas budaya peserta didik. Dalam konteks deep learning, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, identitas sosial, dan kemampuan memahami lingkungan sekitar secara lebih luas. Pendidikan dasar harus mampu menjadi ruang untuk membangun generasi yang cerdas sekaligus memiliki kepedulian sosial dan budaya.
Pendekatan deep learning juga berkaitan erat dengan kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Widodo, Hidayati, dan Rahmawati (2024) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis HOTS pada pendidikan dasar mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan pendapat. Kondisi ini menjadi sangat penting karena tantangan masa depan membutuhkan generasi yang mampu berpikir fleksibel dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan secara inovatif. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan siswa yang pandai menghafal, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang mampu berpikir, menganalisis, dan menciptakan solusi terhadap berbagai masalah di lingkungannya.
Meski memiliki banyak peluang, implementasi deep learning dalam pendidikan dasar juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah budaya pembelajaran yang masih berorientasi pada target kurikulum dan capaian nilai akademik. Sebagian guru masih terbiasa menggunakan metode pembelajaran satu arah karena dianggap lebih praktis dan mudah diterapkan. Selain itu, keterbatasan literasi digital, fasilitas teknologi, dan pelatihan inovasi pembelajaran juga menjadi hambatan dalam transformasi pendidikan modern. UNESCO (2025) menegaskan bahwa transformasi pendidikan digital harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru, penguatan pedagogi, dan pembangunan budaya belajar yang lebih kreatif serta kolaboratif. Pendidikan tidak boleh hanya berubah pada aspek teknologi, tetapi juga harus berubah dalam cara berpikir dan cara membangun pengalaman belajar peserta didik.
Mahasiswa PGMI sebagai calon guru sekolah dasar memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Guru masa depan harus mampu mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran yang tetap humanis, kontekstual, dan berkarakter. Teknologi bukan pengganti guru, melainkan alat bantu untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Karena itu, calon guru PGMI perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, inovasi pembelajaran, literasi digital, pengembangan media interaktif, serta kemampuan memahami karakteristik peserta didik secara mendalam. Guru yang mampu menerapkan pendekatan deep learning akan membantu siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, kreatif, dan mampu memahami pembelajaran secara bermakna.
Pada akhirnya, transformasi pembelajaran berbasis deep learning bukan sekadar tren pendidikan modern, tetapi kebutuhan nyata dalam membangun pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendidikan dasar harus mulai bergerak dari budaya hafalan menuju budaya pemahaman mendalam. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan memiliki karakter kuat dalam menghadapi perubahan global. PGMI UNUGIRI melalui berbagai inovasi penelitian dan pengembangan pembelajaran terus berupaya menghadirkan pendidikan dasar yang progresif, inovatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan serta budaya lokal.
Penulis: Suttrisno
Daftar Pustaka:
Dewi, A. R., Maily, M. E. W., Safitri, F. N. C., Zaitunnah, P. N., Mala, Z. L., & Suttrisno, S. (2025). DEEP LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MI TINJAUAN LITERATUR DALAM MEANINGFUL LEARNING MINDFUL LEARNING DAN JOYFUL LEARNING. Jurnal Kepemimpinan Dan Pengurusan Sekolah, 10(2), 584–592. https://doi.org/10.34125/jkps.v10i2.580
OECD. (2025). What should teachers teach and students learn in a future of powerful AI? OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/what-should-teachers-teach-and-students-learn-in-a-future-of-powerful-ai_ca56c7d6-en.html
Suttrisno, S., Yulia, N. M., & Ibrahim, B. B. (2025). Development of interactive worksheets with artificial intelligence for students based on Bojonegoro local wisdom towards literacy skills of madrasah ibtidaiyah students. Journal of Elementary Educational Research, 5(1), 110–134.
Suttrisno, S., Yulia, N. M., & Fithriyah, D. N. (2022). Mengembangkan kompetensi guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran di era Merdeka Belajar. Al-Mudarris: Journal of Education, 5(1), 52–60.
UNESCO. (2025). Artificial intelligence in education. UNESCO Publishing. https://www.unesco.org/en/digital-education/artificial-intelligence
Widodo, A., Hidayati, N., & Rahmawati, I. (2024). Higher order thinking skills in elementary education: A systematic review. Journal of Pedagogical Research, 8(2), 45–59.
📲 Media Sosial PGMI UNUGIRI
Instagram : @pgmi.unugiribojonegoro
TikTok : @smartpgmi_unugiri
YouTube : Media PGMI
Website : pgmi.unugiri.ac.id
#JUBISMA
#JumatBincangIlmiah
#SmartPGMI
#PGMIUNUGIRI
#DeepLearning
#PendidikanDasar
#GuruMasaDepan
#LiterasiDigital
#ArtificialIntelligence
#MahasiswaPGMI
#UNUGIRIBojonegoro




