
FEMI 2026 Bukan Sekadar Ajang Lomba, tetapi Ruang Bertumbuh bagi Calon Guru Masa Depan
Juli 3, 2026
JUBISMA EDISI 9
Juli 10, 2026Anak Hebat atau Anak Sibuk? Ketika Jadwal Penuh Justru Menghilangkan Masa Kanak-Kanak
“Anak saya Senin les matematika, Selasa mengaji, Rabu bahasa Inggris, Kamis renang, Jumat tahfidz, Sabtu lomba, Minggu masih ikut kelas kreativitas.”
Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi. Banyak orang tua merasa bangga ketika anak memiliki jadwal yang padat. Semakin banyak kegiatan dianggap sebagai tanda bahwa anak sedang dipersiapkan menjadi pribadi sukses di masa depan.
Pertanyaannya, apakah anak benar-benar sedang bertumbuh, atau hanya sedang sibuk?
Fenomena ini semakin sering dijumpai. Anak usia sekolah dasar bahkan prasekolah telah memiliki agenda yang hampir sama padatnya dengan orang dewasa. Waktu bermain berkurang, kesempatan mengeksplorasi lingkungan semakin sedikit, sementara tekanan untuk terus berprestasi justru meningkat.
Padahal, masa kanak-kanak bukan hanya tentang mengumpulkan sertifikat, memenangkan lomba, atau menguasai banyak keterampilan dalam waktu singkat. Masa itu adalah periode emas untuk membangun rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, serta kecerdasan emosional yang akan menjadi fondasi kehidupan mereka di masa depan.
Bermain Bukan Membuang Waktu
Tidak sedikit orang tua menganggap bermain sebagai aktivitas yang kurang produktif. Akibatnya, waktu bermain sering digantikan dengan berbagai kursus dan pelatihan.
Padahal, bermain merupakan proses belajar yang paling alami bagi anak.
Ketika anak bermain bersama teman, mereka belajar menyelesaikan konflik, memahami aturan, bekerja sama, bernegosiasi, bahkan mengelola emosi ketika kalah atau menang. Kemampuan seperti ini tidak selalu bisa diperoleh melalui pembelajaran formal.
Anak juga belajar berpikir kreatif ketika menciptakan permainan sendiri. Imajinasi berkembang tanpa harus selalu diarahkan oleh orang dewasa.
Ironisnya, semakin padat jadwal anak, semakin sedikit ruang bagi mereka untuk menemukan dirinya sendiri.
Prestasi Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kebahagiaan
Tidak ada yang salah dengan mengikuti lomba, les, atau kegiatan pengembangan diri. Semua itu dapat menjadi pengalaman yang sangat berharga apabila dilakukan secara proporsional.
- Masalah muncul ketika prestasi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
- Ada anak yang memperoleh banyak piala, tetapi mudah cemas ketika gagal.
- Ada yang memiliki nilai akademik tinggi, tetapi kehilangan rasa percaya diri ketika menghadapi tantangan baru.
- Ada pula yang sejak kecil selalu diarahkan orang tua hingga kesulitan mengambil keputusan secara mandiri.
Keberhasilan anak tidak hanya diukur dari apa yang mereka capai hari ini, tetapi juga dari kemampuan mereka menghadapi kehidupan di masa depan.
Orang Tua dan Guru Perlu Menemukan Titik Seimbang
Pendidikan terbaik bukan berarti memberikan semua kesempatan sekaligus kepada anak. Pendidikan terbaik adalah membantu anak berkembang sesuai tahap usianya.
- Guru memiliki tanggung jawab menciptakan pembelajaran yang menyenangkan tanpa memberikan tekanan berlebihan.
- Orang tua pun perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda. Tidak semua anak harus mengikuti semua lomba, tidak semua anak harus menjadi juara kelas, dan tidak semua anak harus menguasai berbagai keterampilan sebelum waktunya.
Anak membutuhkan keseimbangan antara belajar, bermain, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.
Anak Hebat Adalah Anak yang Bertumbuh dengan Bahagia
Di era kompetisi yang semakin ketat, orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka. Keinginan tersebut merupakan bentuk kasih sayang yang sangat wajar.
Namun, kasih sayang juga berarti memberikan ruang bagi anak untuk menikmati masa kecilnya.
- Biarkan mereka berlari tanpa selalu diburu target.
- Biarkan mereka bertanya tanpa takut dianggap bodoh.
- Biarkan mereka gagal agar belajar bangkit.
- Biarkan mereka bermain agar belajar menjadi manusia.
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan anak yang pandai mengerjakan soal. Dunia membutuhkan generasi yang sehat secara mental, kreatif dalam berpikir, tangguh menghadapi perubahan, serta mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Anakku sudah ikut les apa lagi?”
Lalu mulai bertanya,
“Apakah hari ini anakku benar-benar merasa bahagia?”
Sebab anak yang bahagia akan lebih mudah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dan pembelajar sejati selalu memiliki kesempatan untuk menjadi hebat.
Penulis: Suttrisno, M.Pd.

JUBISMA (Jumat Bincang Ilmiah Smart PGMI)
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI)
#JUBISMA #SmartPGMI #PGMIUNUGIRI #Parenting #ChildDevelopment #FutureEducation #EducationMatters #TeacherEducation #LearningThroughPlay #InspiringFuture




