
Perkuat Transformasi Pendidikan Digital, PGMI UNUGIRI dan Fakultas Tarbiyah Laksanakan Benchmarking PJJ dan PPG ke UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Juni 19, 2026
Dari UIN Siber ke Implementasi Nyata: PGMI UNUGIRI Bahas Percepatan Program Strategis dan Persiapan Tahun Akademik Baru
Juni 23, 2026Anak Pintar Membaca, Tapi Sulit Memahami: Darurat Literasi atau Krisis Cara Belajar?
Mengajak Masyarakat Meninjau Ulang Makna Literasi di Sekolah Dasar
Bojonegoro, 19 Juni 2026 – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro kembali menghadirkan JUBISMA (Jumat Bincang Ilmiah Smart PGMI) Edisi 7 dengan tema yang sangat relevan bagi dunia pendidikan saat ini, yakni “Anak Pintar Membaca, Tapi Sulit Memahami: Darurat Literasi atau Krisis Cara Belajar?”.
Tema ini dipilih sebagai respons terhadap fenomena yang semakin banyak ditemukan di berbagai jenjang pendidikan dasar. Tidak sedikit siswa yang mampu membaca dengan lancar, mengenali huruf, kata, bahkan paragraf secara baik, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan makna bacaan, menarik kesimpulan, menghubungkan informasi, atau menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah nyata.
Dalam beberapa tahun terakhir, literasi menjadi salah satu agenda utama pembangunan pendidikan nasional. Berbagai program peningkatan budaya membaca telah dilaksanakan di sekolah, mulai dari gerakan literasi sekolah, penyediaan pojok baca, hingga penguatan numerasi dan literasi melalui Asesmen Nasional. Akan tetapi, tantangan pendidikan masa kini tidak lagi berhenti pada kemampuan membaca secara teknis, melainkan pada kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan mengonstruksi makna dari informasi yang diperoleh.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak dapat dipahami secara sempit sebagai aktivitas membaca teks semata. Dalam perspektif pendidikan modern, literasi merupakan kemampuan berpikir yang melibatkan pemahaman, refleksi, analisis, dan pengambilan keputusan. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi yang baik apabila mampu menggunakan informasi untuk memahami dunia, menyelesaikan persoalan, dan mengambil tindakan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena rendahnya pemahaman membaca sering kali berkaitan dengan budaya pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan dan pencapaian jawaban benar semata. Di banyak ruang kelas, peserta didik lebih sering diminta mengingat informasi daripada mengembangkan kemampuan bertanya, mengkritisi, dan menginterpretasi informasi. Akibatnya, proses belajar menjadi aktivitas reproduksi pengetahuan, bukan proses konstruksi makna.
JUBISMA Edisi 7 mengajak para guru, mahasiswa, orang tua, dan pemerhati pendidikan untuk melihat kembali bagaimana praktik pembelajaran di sekolah selama ini berlangsung. Apakah kegiatan membaca yang dilakukan peserta didik benar-benar mendorong mereka berpikir? Apakah ruang kelas telah menjadi ruang dialog yang memungkinkan siswa mengembangkan rasa ingin tahu dan kemampuan bernalar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting dalam upaya membangun budaya literasi yang lebih bermakna.
Dalam kajian psikologi pendidikan, pemahaman membaca merupakan proses kompleks yang melibatkan aktivasi pengetahuan awal, pengolahan informasi, penarikan inferensi, dan kemampuan metakognitif. Siswa tidak hanya dituntut memahami apa yang tertulis dalam teks, tetapi juga mampu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Oleh karena itu, pengembangan literasi membutuhkan strategi pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan kontekstual.
Dari perspektif pendidikan Islam, konsep literasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membaca tulisan. Perintah Iqra’ yang menjadi wahyu pertama mengandung pesan tentang pentingnya membaca realitas, memahami tanda-tanda kehidupan, dan membangun pengetahuan yang membawa kemaslahatan. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan untuk memahami diri, masyarakat, dan kebesaran Allah SWT.
Melalui JUBISMA Edisi 7, PGMI UNUGIRI berharap dapat memperluas diskusi akademik mengenai penguatan literasi di sekolah dasar sekaligus mendorong lahirnya praktik pembelajaran yang lebih berorientasi pada pemahaman, penalaran, dan pembentukan karakter berpikir kritis. Literasi yang kuat bukan hanya menghasilkan siswa yang mampu membaca buku, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu memahami dunia, mengambil keputusan secara bijak, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Sebagai program studi yang telah meraih Akreditasi Unggul dari LAMDIK, PGMI UNUGIRI terus berkomitmen menghadirkan ruang-ruang intelektual yang relevan dengan perkembangan pendidikan kontemporer melalui berbagai kegiatan akademik, salah satunya JUBISMA. Melalui forum ini, budaya berpikir kritis, reflektif, dan solutif diharapkan dapat tumbuh tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di tengah masyarakat luas.
JUBISMA
Jumat Bincang Ilmiah Smart PGMI
“Ngaji Ilmiah, Berpikir Kritis, Beraksi Nyata.”

PGMI UNUGIRI
Smart PGMI, Menginspirasi Negeri.
#JUBISMA #SmartPGMI #PGMIUNUGIRI #LiterasiPendidikan #LiterasiSekolah #PendidikanDasar #GuruMasaDepan #AkreditasiUnggulLAMDIK #JumatBincangIlmiah #MenginspirasiNegeri #LiterasiBermakna #PendidikanIndonesia #MahasiswaPGMI #UNUGIRIBojonegoro



