Guru Masa Depan di Era Artificial Intelligence: Antara Teknologi, Karakter, dan Tantangan Kemanusiaan
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan global. Teknologi yang sebelumnya hanya digunakan pada sektor industri dan bisnis kini mulai menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran sehari-hari. Kehadiran AI mampu membantu proses pendidikan melalui berbagai fitur seperti pembuatan media pembelajaran otomatis, penyusunan perangkat ajar, analisis kemampuan peserta didik, penerjemahan bahasa, hingga evaluasi pembelajaran berbasis data. Kondisi ini membuat dunia pendidikan memasuki era baru yang menuntut perubahan pola pikir, kompetensi, dan kesiapan guru dalam menghadapi transformasi digital. OECD (2025) menjelaskan bahwa pendidikan masa depan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan institusi pendidikan dan guru dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan AI yang semakin kompleks dan cepat. Perubahan tersebut bukan hanya berdampak pada metode pembelajaran, tetapi juga pada jenis keterampilan yang perlu dimiliki siswa maupun guru di masa depan (OECD, 2025).
Dalam konteks pendidikan dasar, perubahan tersebut menjadi tantangan yang jauh lebih serius. Guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah memiliki tanggung jawab yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, moralitas, kebiasaan belajar, serta perkembangan sosial dan emosional anak. Pada fase usia sekolah dasar, peserta didik membutuhkan interaksi langsung, keteladanan sikap, komunikasi yang hangat, dan pendekatan emosional yang tidak dapat digantikan oleh mesin ataupun teknologi digital. UNESCO (2025) menegaskan bahwa teknologi AI memang dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi tidak mampu menggantikan peran kemanusiaan seorang guru dalam membangun hubungan emosional dan karakter peserta didik. Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar penyampaian materi, melainkan proses pembentukan manusia secara utuh yang membutuhkan empati, nilai moral, dan keteladanan nyata dari seorang pendidik (UNESCO, 2025).
Fenomena penggunaan AI dalam dunia pendidikan saat ini juga memunculkan berbagai persoalan baru. Banyak siswa dan mahasiswa mulai terbiasa mencari jawaban instan melalui AI tanpa melewati proses berpikir yang mendalam. Sebagian peserta didik menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas akademik secara cepat tanpa memahami konsep dasar materi yang dipelajari. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Computers and Education: Artificial Intelligence menunjukkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan problem solving jika tidak diimbangi dengan pengawasan dan literasi digital yang baik (Tan, 2025). Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan karena kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi utama yang sangat dibutuhkan pada abad ke-21.
Di sisi lain, AI juga memberikan peluang besar bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif. Guru dapat memanfaatkan AI untuk membuat media pembelajaran interaktif, video edukasi, evaluasi otomatis, hingga pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan siswa. Penelitian Alam (2024) menjelaskan bahwa guru masa depan perlu memiliki kompetensi literasi AI agar mampu menggunakan teknologi secara efektif, etis, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. Literasi AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami dampak sosial, etika, keamanan data, dan validitas informasi yang dihasilkan AI (Alam, 2024). Guru yang memiliki kemampuan tersebut akan lebih siap menghadapi perubahan pendidikan di era digital dibandingkan guru yang hanya mengandalkan metode pembelajaran konvensional.
Mahasiswa PGMI sebagai calon guru sekolah dasar perlu mulai menyadari bahwa penguasaan teknologi bukan lagi sekadar kemampuan tambahan, melainkan kebutuhan utama dalam dunia pendidikan modern. Guru masa depan harus mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Demis Hassabis, CEO Google DeepMind, menyatakan bahwa keterampilan paling penting di era AI adalah kemampuan manusia untuk terus belajar, beradaptasi, dan memahami perubahan teknologi dengan cepat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa masa depan pendidikan membutuhkan guru yang fleksibel, inovatif, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas kemanusiaannya. Guru tidak boleh kalah oleh teknologi, tetapi harus mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Pendidikan dasar memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi digital yang tetap memiliki karakter dan nilai sosial yang kuat. Ketika anak-anak semakin dekat dengan teknologi sejak usia dini, maka pendidikan karakter justru harus diperkuat agar mereka tidak tumbuh menjadi generasi yang individualis, pasif, dan terlalu bergantung pada mesin. Guru sekolah dasar harus mampu menjadi pengarah dalam penggunaan teknologi yang sehat, produktif, dan bertanggung jawab. AI harus digunakan untuk mendukung kreativitas dan pembelajaran, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berjalan seimbang dengan penguatan nilai kemanusiaan, akhlak, dan budaya sosial peserta didik.
PGMI UNUGIRI sebagai program studi pendidikan dasar memiliki komitmen untuk menyiapkan calon guru yang unggul dalam bidang pendidikan, teknologi, dan karakter. Penguatan literasi digital, pengembangan media pembelajaran inovatif, pemanfaatan AI dalam pendidikan, serta penguatan nilai-nilai keislaman menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di PGMI. Mahasiswa PGMI didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi inovator pendidikan yang mampu menciptakan pembelajaran kreatif dan relevan dengan kebutuhan generasi masa depan. Guru masa depan bukanlah guru yang tergantikan oleh AI, tetapi guru yang mampu menggunakan AI untuk menciptakan pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan bermakna.
Semua harus menyadari bahwa, perkembangan AI memang tidak dapat dihentikan. Teknologi akan terus berkembang dan mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Akan tetapi, pendidikan akan selalu membutuhkan guru yang mampu memberikan inspirasi, motivasi, keteladanan, dan sentuhan emosional kepada peserta didiknya. Pendidikan bukan hanya tentang menciptakan manusia yang cerdas secara teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki moral, empati, dan kemampuan hidup berdampingan secara sosial. Karena itulah, guru masa depan harus menjadi sosok yang adaptif terhadap teknologi sekaligus tetap kuat dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis: Suttrisno
Daftar Pustaka
Alam, M. A. (2024). Future skills and artificial intelligence (AI) literacy for teachers: An analysis. Bhartiyam International Journal of Education & Research, 13(3), 1–17.
OECD. (2025). What should teachers teach and students learn in a future of powerful AI? OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/what-should-teachers-teach-and-students-learn-in-a-future-of-powerful-ai_ca56c7d6-en.html
OECD. (2025). Trends shaping education 2025. OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/trends-shaping-education-2025_ee6587fd-en.html
Tan, X. (2025). Artificial intelligence in teaching and teacher professional development: A systematic review. Computers and Education: Artificial Intelligence, 8, 100321. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2025.100321
UNESCO. (2025). Artificial intelligence in education. UNESCO. https://www.unesco.org/en/digital-education/artificial-intelligence
UNESCO. (2025). Teachers cannot be coded. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/teachers-cannot-be-coded
📲 Media Sosial PGMI UNUGIRI
Instagram : https://www.instagram.com/pgmi.unugiribojonegoro
TikTok : https://www.tiktok.com/@smartpgmi_unugiri
YouTube : https://www.youtube.com/@MediaPGMI
Website : https://pgmi.unugiri.ac.id
#JUBISMA
#JumatBincangIlmiahMahasiswa
#PGMIUNUGIRI
#SmartPGMI
#ArtificialIntelligence
#GuruMasaDepan
#LiterasiDigital
#PendidikanDasar
#TeknologiPendidikan
#MahasiswaPGMI
#UNUGIRIBojonegoro
